Thursday, May 04, 2006

Saya Malu... :( {Sebuah Pelajaran dari Cinta}

Hari itu saya dengan suami sedang menonton acara berita di salah satu chanel televisi. Ada sebuah berita yang membuat kami berdua terkesima, seorang bocah berusia enam tahun memberi kuliah di depan puluhan mahasiswa fakultas kedokteran?! Luar biasa! Peristiwa tersebut terjadi di meksiko. Bocah tersebut dengan pakaian bak seorang dokter memberi kuliah tentang osteoporosis. Itu semua dia lakukan dengan santai, beberapa baris tulisan terpampang di layar yang dia jelaskan dengan penuh kesunguhan. Para mahasiswapun mendengar dengan penuh keseriusan, tak ada kesan menyepelekan di wajah mereka. Benar-benar kejadian yang membuat saya dan suami terkesima.

Seorang bocah, sebenarnya, bisa memberi banyak pelajaran kepada kita-kita yang sudah terlanjur dewasa ini. Itu bukan hanya karena dia anak cerdas. Keluguannya, sikapnya yang apa adanya, tingkahnya yang kadang seperti orang dewasa bisa saja membuat kita terkesima dan tertunduk malu. Dan sayapun mengalaminya. Hari ini sebuah pelajaran saya dapatkan dari bungsu saya. Dan saya malu... :(

Hari ini sebenarnya sama dengan hari2 sebelumnya. Namun ada pelajaran yang luar biasa saya dapatkan gara2 sebuah ungkapan yang disampaikan bungsu saya...

Pagi tadi, seperti biasa, bungsu saya - Nayla Afnan, biasa saya panggil Cinta - pamit utk berangkat sekolah. 'Ritual' pagi haripun dia jalani, dia mencium tangan, pipi dan kening saya dan saya balas menciumnya. Biasanya..., setelah itu dia akan meminta uang saku. Tapi saya tunggu, hal itu tidak dia lakukan. Dia hanya memandang saya dg tatapan yg agak berbeda. Agak heran juga saya. Dan keheranan saya terjawab saat saya dan dia terlibat percakapan:

Afnan (begitu dia menyebut dirinya, soal sebutan utk dirinya ini ada ceritanya tersendiri, kapan2 insyaAllah saya akan menuliskannya): "Bunda..., mulai hari ini sampai hari jum’at, aku ga usah dikasih uang jajan saja..."
Bunda: "Kenapa begitu...?"
A: "Aku juga minta maaf..."
B: "Minta maaf utk apa???"
A: "Uang yg Bunda kasih ke aku utk beli mukena (buat sholat) Barbie aku pake untuk beli minuman, soalnya aku haus banget. Maaf ya Bundaaa..."
Belum sempat saya menanggapi. Dia melanjutkan...
A: "Aku salah sudah pake uang itu. Karena itu, Bunda ga usah kasih aku uang jajan dulu...
B: "Kok Cinta kepikiran begitu?"
A: "Aku harus melaksanakan kewajiban aku dulu kan Bunda. Membayar uang yang aku pake..."

Saya tertegun. Suami saya yg kebetulan ada disamping saya tampaknya punya pikiran yg sama. Karena dengan spontan kami berpandangan. Anak seumur dia bisa berbicara seperti itu??? (cat: Percakapan saya dan dia sama sekali tidak saya rubah. Saya tulis apa adanya, tanpa saya edit).

Saat saya dan suami melepas kepergian si bungsu. Keharuan yg sama kami rasakan. Afnan, anak kami yang baru berusia 8 tahun (pada bulan Juli nanti) sudah berpikir tentang amanah, tanggung jawab dan pelaksanaan kewajiban!
Walau dalam batas pemikiran seorang anak seusia dia, tetapi dia melakukan hal itu... Dia merasa tidak melaksanakan amanah untuk membeli mukena bonekanya, kemudian dia meminta maaf karena telah mengingkari amanah itu... dan dia mengorbankan uang sakunya sebagai bentuk tanggung jawab-nya dan melaksanakan kewajiban-nya dengan membayar uang yang dia pakai (dari jatah uang saku yg biasanya dia dapat). Subhanallah...

Rasa malu menghinggapi diri saya. Apakah kita sudah melaksanakan itu semua??? Kata-kata: AMANAH... TANGGUNG JAWAB... KEWAJIBAN... Terus mengitari kepala saya.

Ehmmm... Andai saja semua orang punya pikiran yang sama.

Pikiran saya terus menerawang... Kerusakan yang melanda negri ini, di berbagai seginya disebabkan karena hilangnya sikap amanah, tanggungjawab dan keinginan menunaikan tanggungjawab pada orang dewasa. Bayangkan, kita semua, warga negara Indonesia punya hutang ke negara lain sebesar seribu triliun rupiah. Mau tahu nolnya ada berapa? Lima belas buah saudara-saudara! Uang sebanyak itu tidak semua kita yang menikmati. Paling-paling 30 persennya yang benar-benar terpakai untuk program pemerintah yang bermanfaat untuk kita. Sisanya, dikorupsi, program foya-foya dan mengkaji orang-orang yang tak jelas apa kerjanya.

Banyaknya anak-anak yang rapuh jiwanya, kemudian terlibat narkoba, pergaulan bebas dan kekerasan itu juga karena para orang tua dan orang dewasa lainnya telah kehilangan rasa tanggungjawab, amanah dan keinginan menunaikan kewajiban.

Oh andai kata pengelola negri ini mau memegang amanah, bertanggung jawab dan mau menunaikan kewajiban, hutang seribu triliun itu pasti bisa kita bayar dan negri ini pasti bisa di bikin makmur. Jika para orang tua mau memegang amanah anak, mau menunaikan kewajiban dan mau bertanggung jawab, kayaknya para pedagang narkoba itu bisa di bikin bangkrut dalam waktu singkat dan investornya akan segera angkat kaki dari negri kita. Oh seandainya...

Dan seandainya.........
Heyy..., kok saya terus berandai2 ya..!!?? ehmm..., apa pikiran saya melompat terlalu jauh...???

 
Oleh : wirdayanti ketika 3:04 AM
5 Komentar:

Anonymous Anonymous said...
Anonymous Anonymous said...
Blogger wirdayanti said...
Anonymous Anonymous said...
Anonymous Anonymous said...

Hello !

Greetings from Belgium !

Reno

Subhanallah..

Cinta...sholihahnya kau Nak!!!

Wah...saya musti banyak belajar dari Bunda Nayla nih tentang mendidik anak :)

Salam

Bunda Shafiya

http://keluargazulkarnain.blogspot.com

Saya juga masih harus terus banyak belajar Ros...

Terima kasih ya... :)

Subhanallah..

cerita yang sarat makna,
terimakasih bunda


dewa

3:14 AM  

5:20 AM  

1:18 AM  

2:32 AM  

6:55 PM  

Post a Comment

<< Home

 
 

Cerita Sebelumnya



Links

+ Nofriza's Blogger
+ Muslim Blogger Indonesia


Kata mereka

Copyright by Wirdayanti @ 2005. All Right Reserved. Design By NN