| |
|
Thursday, March 23, 2006
|
Qoute Of The Day
Di setiap tempat, kita mungkin akan menemukan kegelapan dalam hidup kita. Tidak ada langkah yang tepat kecuali kita nyalakan pelita dalam diri kita...
Hadapilah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Kita akan selalu menghadapi masalah di dunia yang tak mampu kita ubah. Kita hanya bisa berinteraksi dengannya dengan sabar dan keimanan...
Berfikirlah positif dan optimis. Jika kita mengalami hari yang buruk, maka itu ada;ah permulaan untuk hari yang lain, yang dekat, yang menggembirakan, yang menyenangkan dan yang membahagiakan...
Kemarin adalah mimpi yang telah berlalu, esok hari adalah cita-cita yang indah, dan hari ini adalah kenyataan...
Good Luck! Allah Bless you...
|
| |
Oleh : wirdayanti ketika 1:48 AM
|
0 Komentar
|
|
Sunday, March 12, 2006
|
Dialah Cinta...
 Cinta. Itu panggilan kesayangan saya untuk si bungsu. Sejak baru lahir tanggall 22 Juli 1998, dan ketika bidan yang menolong persalinan langsung menaruhnya di atas dada saya, nama itu sudah saya sebut. Cinta... Dan hanya satu orang yang memanggil dia dengan nama itu, yaitu saya Bundanya! Tidak Ayahnya, tidak juga 3 orang kakaknya. Hanya saya saja!
Buat dia, ada dua nama panggilan yang begitu akrab di telinganya. Nayla Afnan (nama yang kami berikan) dan Cinta. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa saya ikut-ikutan memanggil nama Cinta seperti nama pemeran utama salah satu film layar lebar di Indonesia, tentu saja salah. Karena saya memanggil 'Cinta' padanya jauh sebelum film itu dibuat.
Suatu hari seperti biasa teman-temannya bermain di rumah. Di rumah kami, memang cukup banyak mainan untuk anak-anak, ada puluhan lego dengan ukuran raksasa, ada bola basket lengkap dengan tiang plastik besar dan ringnya, dll. Selain itu, anak saya itu cukup supel, sehingga teman-temannya senang bermain dengannya. Saat itu tepat waktu sholat ashar, saya memanggil bungsu saya yang sedang asyik bermain di halaman rumah. "Cinta...," panggil saya. "Ya Bunda." Jawab dia cepat. Dihampirinya saya. "Jangan lupa sholat ya sayang, nanti ajak teman-teman untuk sholat," saya mengingatkan. "Oke Bunda," ujarnya. Kembali ia menghampiri teman-temannya. Dari dalam ruang tamu saya memperhatikan mereka, saya lihat anak saya sedang berbicara serius. Teman-temannya tampak tertawa. Wajah anak saya terlihat agak muram. Tak lama dia masuk lagi ke dalam. Dihampirinya saya, "Bunda..., kalau ada temanku, Bunda jangan panggil aku dengan nama Cinta ya." Ucapnya dengan serius. "Loh, kenapa?" tanya saya heran. Biasanya dia begitu senang dan bangga dengan nama itu. Dia sangat memahami kenapa saya memanggilnya dengan nama itu. "Teman-temanku meledek" jawabnya. "Hmmm..., Cinta belum menjelaskan, kenapa Cinta di panggil Bunda dengan nama itu?" tanya saya. "Belum," jawabnya. "Oke..., sekarang cinta jelaskan keteman-teman ya..." pinta saya. Wajahnya langsung berubah cerah. "Oke Bunda!" jawabnya sambil berlari menghampiri teman-temannya. Dari dalam ruang tamu, saya menguping pembicaraan mereka. "Aku dipanggil Cinta oleh Bundaku, karena Bunda sangat cinta sama aku. Bundaku sayang sama aku... Bunda ingin aku Cinta pada Allah.., Cinta pada... " Jelasnya panjang lebar dengan wajah sangat cerah.
Saya tidak mendengar kelanjutan penjelasan dia tentang namanya, karena tiba-tiba saja mata saya penuh dengan genangan airmata. Sungguh saya sangat terharu. Tadinya saya pikir panggilan itu hanya sekedar memuaskan perasaan pribadi saya. Saya benar-benar tak mengira panggilan itu sangat berarti baginya. Ternyata, panggilan kita pada seseorang bisa mengandung arti yang mendalam. Bukan hanya bagi si pemanggil, tetapi juga bagi yang bersangkutan! Pada anak saya yang nomor 3 misalnya, selain namanya, saya juga memanggilnya dengan pangilan 'Sholihat', dan dia sangat senang.
Dan memang begitulah, apapun panggilan pada seseorang, baik namanya sendiri atau nama panggilannya yang lain, jika itu bermakna positif dan kita tulus memanggilnya, tentu akan begitu berarti...
|
| |
Oleh : wirdayanti ketika 9:42 AM
|
4 Komentar
|
|
|
|