| |
|
Tuesday, January 31, 2006
|
Nabrak Juga Akhirnya... :(
Sudah sejak lama saya ingin belajar nyetir mobil. Dan suami saya sangat mendukung keinginan saya itu. "Belajar deh, biar gampang kemana-mana!" Itu kata Abang. Namun kesempatan untuk itu belum juga datang! Dari berbagai kegiatan yang cukup banyak saya ikuti, sampai kerjaan kantor yang maraton, membuat saya nggak sempat belajar nyetir. "Deadline never die!" itu komentar saya dan teman2 di kantor. Selesai deadline, jumpa lagi dengan deadline berikutnya. Namun saya pikir, kalau ga disempat2in, ga akan jadi2 saya belajar nyetir mobil.
Akhirnya, awal Januari 2006 saya mendaftar disalah satu sekolah mengemudi mobil di dekat rumah. Saya mengambil yang 7 kali pertemuan. Karena selain belajar disitu saya juga belajar dengan adik saya. 2 guru setir saya ini memiliki keunikan tersendiri. Dengan guru disekolah mengemudi misalnya, sepanjang belajar mobil dengannya, saya jadi "tukang" nasehat dia. Banyak hal dari obrolan kami yang membuat saya harus banyak memberi masukan buat dia, syukurnya dia senang menerima. Lain lagi dengan adik saya. Cukup seru! "Biasanya aku yang dimarahi kak Wida, sekarang aku bisa marahi kakak! Kapan lagi bisa marahi kakak. Heheheā¦" Itu komentar bangga adik saya. Hmmm..., dia memang cukup galak sebagai 'guru' saya! :(
Akhirnya saya dinyatakan lulus! Baik oleh guru saya maupun oleh adik saya. "Tinggal lancarin saja!" itu kata mereka berdua. Dan untuk lebih memperlancar, sayapun membuat SIM. ALhamdulillah saya mendapatkannya dengan mudah. Dan kemudian, sayapun berani nyetir sendiri, dari mengantar Abang kerumah temannya dan berbagai tempat lainnya. Tp memang saya masih jago kandang! Baru berani diseputaran Depok saja. Jalan Juanda, Raya Bogor dan Margonda yang ramai saya lewati dengan aman. Saya belum berani ke Jakarta. (Ehm..., apa beda Jakarta dengan Depok sekarang ya...??)
Sampai beberapa hari yang lalu saya kembali membawa mobil. "Bunda anterin aku ke sekolah ya..." pinta anak saya. Sebenarnya sekolahnya cukup dekat dengan rumah, bisa jalan kaki, biasanya dia naik sepeda. Namun saya pikir boleh juga, biar dia senang. Dari sana saya sempat berkeliling sebentar sampai akhirnya peristiwa itu terjadi... DUARRRR!!! Mobil yang saya kendarai menabrak tembok pagar saat saya masukkan mobil ke halaman rumah! Tetangga sebelah rumah dan Abang yg sedang menerima tamu serta orang2 didalam rumah segera keluar untuk mengetahui apa yang terjadi?? Dan ternyata tabrakan itu cukup keras karena membuat bamper mobil rusak, dan kaca lampu pecah! Didalam mobil saya terpana. Saya tersadarkan saat Abang mendekati jendela mobil sambil tersenyum. "Abang..." saya tak sempat meneruskan kata2 saya saat Abang bilang, "Sudah..., nggak apa2... Nanti kita betulkan mobilnya..." Kata2 Abang membuat saya agak tenang. (Yang mengenal Abang, akan paham, itulah Abang!). Orang2 yang menghampiri saya banyak memberi komentar. Pembantu sebelah rumah misalnya, "Ga apa-apa Bu, Maminya Conie (majikannya) kemarin nabrak mobil orang, padahal sudah jago!" Seorang teman Abang yang ikut keluar juga berkomentar, "Iya Bu..., biasa itu kalau sedang belajar mobil." Katanya. Dan ada beberapa komentar lainnya, semuanya menenangkan saya.
Walau saya mendapat pelajaran dari kejadian itu, terus terang saya memang sedikit agak trauma! Saya menyatakan hal itu saat saya ngobrol dengan Abang malam harinya. "Terusin saja lancarin nyetir mobilnya..., ga usah kapok, akan banyak manfaatnya dengan bisa nyetir mobil." Tanggap Abang. Kata-kata Abang cukup menyemangati saya, bahwa saya memang nggak boleh berhenti sampai disitu!
|
| |
Oleh : wirdayanti ketika 5:22 AM
|
|
|
|
Post a Comment
<< Home